PENGARUH INFLASI PADA PERTUMBUHAN EKONOMI DI LOMBOK TIMUR

Oleh: Whella Widhyasari Erpa (Mahasiswa FEB Unram)

Inflasi adalah suatukejadianyang menunjukkan kenaikantingkatharga secaraumum dan berlangsung secara terus menerus. Dari definisi tersebut ada tiga kriteria yang perlu diamati untuk melihat telah terjadinya inflasi, yaitu kenaikan harga, bersifat umum, dan terjadi terus- menerus dalam rentang waktu tertentu. Apabila terjadi kenaikan harga satu barang yang tidak mempengaruhi  harga  barang  lain,  sehingga  tidak  naik  secara  umum,  kejadian  seperti  ini bukanlah  inflasi.  Kecuali  bila  yang  naik  itu  seperti  harga  BBM,  ini  berpengaruh  terhadap hargaharga lain sehingga secara umum semua produk hampir mengalami kenaikan harga. Bila kenaikan harga itu terjadinya sesaat kemudian turun lagi, itupun belum bisa dikatakan inflasi, karena kenaikan harga yang diperhitungkan dalam konteks inflasi mempunyai rentang waktu minimal  sebulan. Pada  dasarnya tidak  semua inflasi berdampak negatif pada perekonomian, terutama jika terjadi inflasi ringan yaitu inflasi dibawah sepuluh persen. Inflasi ringan justru dapat  mendorong  terjadinya  pertumbuhan  ekonomi.  Hal  ini  karena  inflasi  mampu  memberi semangat  pada  pengusaha  untuk  lebih  meningkatkan  produksinya.  Pengusaha  bersemangat memperluas produksinya, karena dengan kenaikan harga yang terjadi para pengusaha mendapat lebih banyak keuntungan. Selain itu peningkatan produksi memberi dampak positif lain, yaitu tersedianya lapangan kerja baru. Inflasi akan berdampak negatif jika nilainya lebih dari sepuluh persen.

Laju inflasi (gabungan kota Mataram dan Bima) bulan maret 2021 tercatat sebesar 0,31 persen, lebih tinggi  dibandingkan laju inflasi nasional yang  sebesar 0,08 persen.  Sedangkan tingkat inflasi selama triwulan I 2021 tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 0,69 persen, sama sepertitingkat inflasibulanan secaranasional yang mencapai puncaknya pada Januari 2021 (0,26  persen).  Komoditas  yang  paling  mempengaruhi  inflasi  di  bulan  Maret  2021  adalah kelompok  makanan  minuman  dan  tembakau   sebesar  0,64  persen.  Berikutnya  kelompok perumahan,  air,  listrik,  dan  bahan  bakar  rumah  tangga  sebesar  0,60  persen,  kelompok transportasi sebesar 0,30 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,12 persen, kelompok perlengkapan peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,05 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,04 persen, kelompok  penyediaan  makanan  dan  minuman/restoran  sebesar  0,01  persen,  dan  kelompok pendidikan  sebesar  0,00  persen.  Sementara  penurunan  indeks  harga  konsumen  terjadi  pada kelompok perawatan pribadi  dan jasa  lainnya  sebesar  0,88 persen,  dan kelompok  informasi komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat inflasi disini tidak memiliki pengaruh yang  signifikan  terhadap pertumbuhan  ekonomi  di  Lombok  Timur.  Dari uji  statistik  secara partial dengan menggunakan uji-t, menunjukkanbahwanilait-hitung sebesar – 1,428 dengan nilai t-tabel (α = 0,05 ; df = 7) adalah sebesar 2,364. Dengan demikian dapat diketahui Dari hasil diatas  dapat  dilihat bahwa tingkat inflasi tidak berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi  Kabupaten  Lombok  Timur.  Besar  kecilnya  tingkat  inflasi  tidak  akan  mengganggu kegiatan  perekonomian.  Pengendalian  harga  dan  daya  beli  masyarakat  tetap  terjaga  secara keseluruhan. Namun konsekuensinya pertumbuhan ekonomi  akan relatif rendah juga, karena tidak  ada  motivasi  bagi  para  pengusaha  untuk  terus  berkembang.  Dinamika  pertumbuhan ekonomi dan inflasi ini ibarat dua hal yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana dijelaskan dalam teori   ilmu   ekonomi   melalui   Kurva   Philip.   Pertumbuhan   ekonomi   yang   tinggi   akan mengakibatkan  inflasi  juga  tinggi.  Sebaliknya,  pertumbuhan  ekonomi  yang  rendah  akan menciptakan inflasi yang juga rendah.  Secara partial pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi  sudah  diketahui  hasilnya,  dimana  inflasi  tidak  memiliki  pengaruh  yang  signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Lombok Timur. Selanjutnya kalau dilihat secara serempak pengaruh kedua faktor (inflasi) terhadap pertumbuhan ekonomi Lombok Timur, menunjukkan hasil yang baik. Berdasarkan hasil estimasi yang dilakukan dengan uji statistik (uji F), diperoleh hasil bahwa nilai F-hitung sebesar 39,22 sedangkan nilai F-tabel sebesar 4,46. Artinya nilai F- hitung lebih besar dari Ftabel (39,22 > 4,46) dan nilai probability sebesar 0,000 < 0,05. Dengan nilai  tersebut  dapat  disimpulkan  tentang  hipotesis  yang  menyatakan  bahwa  secara  simultan inflasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lombok Timur dapat diterima.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hailuddin., Nourmalita, U., dan Wijimulawiani, B. S. 2022. Belanja Modal dan Tingkat Inflasi serta  Dampaknya  pada  Pertumbuhan  Ekonomi  Kabupaten  Lombok  Timur  Tahun 2010-2019. Jurnal Ekonobis, Vol. 8 (1): 1- 13.

Sudarmanto. 2021. Kajian Fiskal Regional Triwulan I. Kanwil Ditjen Pembendaharaan Provinsi NTB, Mataram.

Syarwan. 2019. Kajian Fiskal Regional Triwulan III. Kanwil Ditjen Pembendaharaan Provinsi NTB, Mataram.