Oleh: Muhamad Bai’ul Hak, S.E., M.AppEc
(Direktur Arus Data Institute / Dosen FEB Universutas Mataram)

Fenomena “Bulan Konsumtif”
Bulan Ramadhan memiliki makna penting tidak hanya dalam perspektif agama, namun juga dari segi budaya, sosial dan ekonomi di Indonesia (Faoziah, 2023). Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim nomor dua terbesar di dunia, Bulan Ramadhan selalu menjadi “bulan konsumtif” masyarakatnya. Selain makna spiritualnya, Bulan Ramadhan juga bertalian erat dengan masalah sosial ekonomi, salah satunya adalah terkait perubahan daya beli masyarakat. Tentu daya beli yang meningkat menjadi salah satu fenomena pada setiap datangnya Bulan Ramadhan.
Selama Bulan Ramadhan, puasa dari fajar hingga senja mengubah rutinitas harian jutaan masyarakat Indonesia. Perubahan rutinitas ini secara signifikan mempengaruhi perilaku konsumen dan pola konsumsi mereka. Secara khusus, terdapat peningkatan permintaan akan makanan dan minuman pada dua kondisi yaitu pada saat sebelum buka puasa (sekitar 1-2 jam sebelum matahari terbenam) dan juga pada saat sahur (sekitar 1-2 jam sebelum adzan shubuh).
Selain itu, Bulan Ramadhan juga identik dengan peningkatan pertemuan dan perayaan sosial, seperti makan malam buka puasa dan perayaan Idul Fitri. Hal ini mengakibatkan meningkatnya permintaan akan pakaian, hadiah, dan barang konsumsi lainnya. Masyarakat Indonesia sering mengalokasikan sebagian anggaran mereka untuk pengeluaran-pengeluaran seperti ini, sehingga berkontribusi pada peningkatan belanja konsumen selama periode Ramadhan. Namun hal ini tentu bersifat sementara, yaitu terjadi hanya pada saat Ramadhan.
Peluang Usaha
Tentu tidak sedikit sektor usaha yang memanfaatkan peluang unik yang hadir setiap Bulan Ramadhan. Mulai dari Pedagang yang menawarkan promosi khusus, diskon, dan paket produk untuk menarik konsumen selama periode ini. Industri makanan dan minuman mengalami lonjakan penjualan, begitu juga restoran, kafe, dan tempat makanan lainnya. Fenomena ini juga mengharuskan pedagang akan memperpanjang jam operasionalnya untuk melayani konsumen selama bulan puasa. Bahkan banyak usaha yang menambah karyawan selama Bulan Ramadhan, agar tetap memberikan pelayanan prima kepada konsumen.

Sumber Gambar: https://www.kompas.id/baca/metro/2024/03/17/takjil-meluruhkan-sekat-sara
Belum lagi fenomena “Takjil War”, yaitu berburu makanan pembuka saat puasa. Bahkan Takjil War menjadi ajang bagi yang tidak puasa (non-muslim) untuk ikut berburu makanan-makanan yang jika di luar Ramadhan cukup sulit ditemukan, kolak dan berbagai varian es misalnya.
Selain industri makan dan minum, sektor fashion juga menjadi sektor yang sangat menggeliat selama bulan Ramadhan. Adanya tradisi menggunakan baju baru dalam perayaan Idul Fitri menjadi salah satu alasan Industri Fashion kebanjiran pelanggan selama Ramadhan. Industri ini senantiasa memperbaharui trend dan model fashion agar mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
Perang promo tidak hanya terjadi terhadap barang-barang yang dijual di pasar tradisional, namun juga terjadi platform pasar online atau e-commerce (Rijal dkk, 2023). Setiap pasar online meluncurkan kampanye pemasaran bertemakan Ramadhan dan menawarkan penawaran eksklusif dalam rangka menggaet konsumen muslim selama Bulan Ramadhan. Platform e-commerce dipermudah dengan masifnya perkembangan metode pembayaran digital dalam melakukan transaksi, hal ini meningkatkan kenyamanan konsumen.
Tips Manajemen “Daya Beli” Selama Ramadhan
Sejatinya, daya beli selalu berdampak positif bagi ekonomi masyarakat (Qosim, 2022). Secara makro, peningkatan daya beli juga berdampak positif bagi perekonomian daerah dan nasional (Yuanita dkk, 2023). Namun, sebagai seorang muslim, kita sangat dianjurkan untuk menjaga pola konsumsi agar tidak termasuk dalam kategori orang yang boros. Berikut beberapa tips pengelolaan keuangan selama Bulan Ramadhan, antara lain:
- Catat Kebutuhan
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, sangat penting untuk mengidentifikasi dan mencatat pengeluaran wajib selama Bulan Ramadhan. Sederhananya, kebutuhan dapat diklasifikasi ke dalam kebutuhan dapur, kebutuhan aktivitas anggota keluarga, dan kebutuhan kamar mandi.
- Stock
Melakukan pembelian terhadap barang-barang yang rentan kenaikan harga jauh hari sebelumnya. Ada beberapa jenis barang yang sangat rentan terhadap kenaikan seperti kebutuhan pokok minyak goreng, gula, tepung, sayuran, daging, dan barang lainnya. Tentu tidak semua barang yang bisa distock, artinya setelah identifikasi kebutuhan selanjutnya dapat melakukan pembelian utntuk barang-barang yang dapat tahan lama.
- Perencanaan Keuangan (Budgeting).
Pada prinsipnya, semua kebutuhan selama Ramadhan jangan sampai melebihi kemampuan cash flow. “Jangan lebih pasak dari pada tiang”. Jika pendapatan Rp. 5 juta, maka sebaiknya pembelian terhadap barang-barang tidak melebihi income bulanan. Hal ini dikecualikan jika ada kebutuhan yang sifatnya mendesak (sakit atau kendaraan bermasalah), maka diperbolehkan melakukan pinjaman.
- Banyak Sabar dan Syukur
Godaan selama Bulan Ramadhan memang sangat tinggi. Namun sebagai seorang muslim, sudah seharusnya memperbanyak rasa sabar dan meningkatkan rasa Syukur. Sesaat sebelum buka puasa, bias any kita selalu ingin komsumsi makanan ini dan itu. Namun pada akhirnya, ketika buka puasa, seringkali kita dicukupkan dengan makanan sederhana seperti kurma dan air.
Jadi, Bulan Ramadhan memang merubah pola konsumsi sebagian besar Masyarakat Indonesia. Kita sebagai umat muslim, seyogyanya lebih paham esensi datangnya Bulan Ramadhan. Bulan untuk lebih dekat dan bertaqwa kepada Tuhan kita, bulan untuk mempererat rasa kemanusiaan kita, bulan untuk menjaga hubungan dengan manusia dan juga dengan sang Pencipta.
Referensi
Faoziah, S. (2023). Inklusi Sosial dalam Perspektif Keislaman: Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Untuk Semua. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional, 5(1).
Qosim, N. (2022). Ramadan, Inflasi dan Penguatan Ekonomi Masyarakat.
Rijal, S., Ausat, A. M. A., Kurniawati, R., & Suherlan, S. (2023). OPPORTUNITIES AND CHALLENGES FOR MSMEs IN INDONESIA IN THE FACE OF RAMADAN. Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(2), 2035–2039. https://doi.org/10.31004/cdj.v4i2.13936.
Yuanita, A., Ramadhan, D. R, & Mukhlis. (2023). Factors Affecting Economic Growth in Indonesia. Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi, 12(2), 245-262. https://doi.org/10.15408/sjie.v12i2.31186.