Tingkat Pengangguran Terbuka di Lombok Tengah 2020-2022
Oleh: Muhamad Satriawan Alfarizi (Mahasiswa FEB Unram)
Pembangunan Nasional adalah tugas pemerintah yang selalu akan menghadapi permasalahan setiap tahunnya. Pembangunan ekonomi sangat penting bagi sebuah negara sebab akan menentukan kesejahteraan masyarakat secara nasional. Secara makro, terdapat beberapa aspek yang dijadikan acuan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu pembangunan ekonomi. Aspek tersebut salah satunya adalah pengangguran.
Pengangguran merupakan keadaan dimana suatu angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan namun belum mendapatkannya. Angkatan kerja yang dimaksud adalah masyarakat dalam rentan usia 15-65 (usia produktif) yang tidak sedang menjalankan pendidikan ataupun persiapan-persiapan untuk bekerja, tidak sedang menjadi ibu rumah tangga, serta tidak sedang menjalani kegiatan lain yang tidak mengharuskannya untuk bekerja.
Pengangguran merupakan salah satu masalah yang dihadapi Indonesia pada saat ini, dimana tingkat pengangguran di Indonesia cukup tinggi. Ini bisa disebabkan oleh banyak macam hal seperti tidak seimbangnya angkatan kerja dengan lapangan pekerjaan yang tersedia, kurangnya SDM yang siap bekerja, terjadinya PHK massal, tergantinya manusia oleh mesin-mesin dan masih banyak lagi. Ini tentu akan menjadi tantangan bagi pemerintah bagaimana mereka akan mengatasi tingkat pengangguran yang tinggi tersebut.
Dari data BPS tahun 2022, pada Agustus 2022 pengangguran di Indonesia mencapai angka 8,42 juta orang. Ini tentu menjadi masalah bagi Indonesia sebab ini meningkat dari data dari BPS Februari tahun 2022 yang mana jumlah pengangguran pada waktu tersebut sebanyak 8,40 juta orang. Peningkatan sebesar 24 persen ini tentu berat bagi negara dengan penduduk 275 juta jiwa ini, ditambah lagi dengan masalah masalah ekonomi lain yang mana memiliki korelasi dengan pengangguran seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan lain lain. Pasalnya masalah masalah ekonomi tersebut akan berpengaruh secara nyata bagi tingkat pengangguran.
Di Nusa Tenggara Barat sendiri telah terjadi tren positif dari tahun 2020 hingga 2022. Provinsi NTB menjadi Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terbuka terendah di Indonesia pada tahun 2021 sejajar dengan gorontalo di angka yang sama yakni 3,01%. Menurut data BPS NTB tingkat pengangguran terbuka (TPT) di NTB semakin menurun yang pada 2020 ada di angka 4,22% dari angkatan kerja, hingga 2022 berada pada angka 2,89% dari angkatan kerja. Artinya TPT di NTB telah berkurang 1,33% dalam 3 tahun terakhir. Ini tentu tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi dan juga perkembangan kegiatan-kegiatan ekonomi yang ada di NTB dalam rangka pemulihan pasca seperti menjamurnya UMKM, meningkatnya minat beli masyarakat, pengadaan event nasional dan internasional, dan umumnya adalah kenaikan permintaan yang mengakibatkan penambahan produksi dimana perusahaan akan meningkatkan permintaan atas tenaga kerja.
Lantas bagaimana dengan tingkat Pengangguran di Lombok Tengah? Tidak seperti TPT provinsi, TPT di Lombok Tengah tidak stabil dalam mepertahankan tren positifnya. Mekipun pada tahun 2020-2021 Lombok Tengah memiliki angka penurunan TPT yang cukup baik namun pada 2022 angkanya malah bertambah. Padahal dari data BPS Kabupaten Lombok Tengah, diketahui telah terjadi peningkatan PDRB yang cukup memuaskan. Ini menunjukkan bahwa adanya masalah pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang ada di Lombok Tengah.
Dari data BPS Provinsi NTB, pada tahun 2020 TPT di Lombok Tengah berada pada angka 3,74%. Angka ini secara keseluruhan memang tergolong tinggi, di NTB pada saat itu termasuk yang tidak terlalu tinggi. Pasalnya pada saat itu masih dipengaruhi oleh kondisi Pandemi covid 19 dimana pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan lockdown sehingga seluruh kegiatan produksi menurun dan secara tidak langsung menyebabkan inflasi dan tingkat pengangguran naik. Kondisi ini mengurangi minat beli dari masyarakat terhadap beberapa barang/jasa sehingga menurunkan permintaan yang ada. Pada periode ini, perusahaan menurunkan tingkat produksinya sehingga para tenaga kerja akan dibayar lebih rendah atau bahkan hingga di PHK oleh perusahaan akibat perusahaan tidak mampu membayar tenaga kerja yang dimiliki sejak sebelum pandemi.
Pada 2021, Lombok Tengah berhasil “survive” dari masalah ekonomi yang disebabkan oleh pandemi. Dapat dilihat pada data dari website BPS Provinsi NTB bahwa TPT di Lombok Tengah turun pada 2021 menjadi 2,33%.Bukan tanpa alasan 2021 Lombok Tengah bisa survive. Jika dilihat dari PDRBnya memang sektor konstruksi Lombok tengah meningkat sangat tinggi akibat dari pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus termasuk Sirkuit Internasional Mandalika yang tentu memerlukan banyak tenaga kerja dalam pembangunannya sehingga sangat signifikan membantu menurunkan angka Tingkat Pengangguran Terbuka di Lombok Tengah.
Namun, pada 2022 terjadi kenaikan yang signifikan pada Tingkat Pengangguran Terbuka di Lombok Tengah. Ditinjau dari data yang didapat pada website BPS Provinsi NTB, kenaikan yang terjadi adalah 0,69% sehingga persentase TPT atas angkatan kerja mencapai 3,02%. Belum diketahui pasti penyebab naiknya tingkat pengangguran terbuka tersebut. Namun, yang pasti ini mengindikasikan menurunnya TPAK di Lombok Tengah. Masalah ini tentu akan menjadi beban bagi Kabupaten Lombok Tengah karena secara tidak langsung berpotensi meningkatkan angka kemiskinan.
Jika dibandingkan dengan kawasan lain di NTB pada saat ini, Tingkat Pengangguran Terbuka di Lombok Tengah bukanlah yang terburuk. Namun pemerintah harus berupaya lagi untuk menurunkan angka TPT ini agar tidak semakin besar di kemudian hari dan berimbas pada kegiatan kegiatan ekonomi lain yang ada di Lombok Tengah.
Daftar Pustaka
Buku Lombok Tengah Dalam Angka
Website BPS Provinsi NTB