Oleh: Muhamad Bai’ul Hak, S.E., M.AppEc
(Dosen FEB Universutas Mataram)
Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perubahan agregat jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara dalam periode waktu tertentu. Misalkan pertumbuhan Ekonomi Indonesia, maka berapa perubahan nilai barang atau jasa yang dihasilkan oleh seluruh penduduk Indonesia dalam kurun waktu satu tahun. Perubahan ini bisa saja positif atau juga negatif. Pertumbuhan ekonomi yang positif mengindikasikan ada perbaikan aktivitas ekonomi negara tersebut. Dan juga sebaliknya, apabila terjadi pertumbuhan yang negatif atau sering disebut sebagai kontraksi, maka ada penurunan nilai barang/jasa yang diproduksi. Sehingga tidak salah jika pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan masyarakatnya, yang juga menjadi tolok ukur baik atau tidaknya status ekonomi suatu negara.
Ada beberapa indikator yang dapat digunakan dalam menilai pertumbuhan ekonomi misalnya peningkatan pendapatan nasional, pendapatan per kapita, jumlah tenaga kerja lebih banyak dari jumlah pengangguran dan angka kemiskinan berkurang. Dengan mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi, maka pemerintah dapat membuat perencanaan mengenai penerimaan negara dan pembangunan ke depan. Sementara itu, bagi pelaku sektor usaha, tingkat pertumbuhan ekonomi dapat menjadi dasar perencanaan pengembangan produk dan sumber dayanya, termasuk di dalamnya petani kita.
Kontribusi Sektor Pertanian
Sektor pertanian memegang peranan strategis dalam pembangunan nasional, baik dari segi pertumbuhan ekonomi maupun pemerataan pembangunan. Beberapa ahli ekonomi pertanian seperti Timer (2002) mengatakan bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Senada dengan Timer, Gylfason (2000) juga mengatakan bahwa sektor pertanian sebuah negara menjadi sektor fundamental dalam menggerakkan ekonomi sebuah negara. Tidak terlepas juga di Indonesia. Kita mengetahui Bersama bahwa sektor pertanian berperan penting dalam perkonomian kita. tentu hal ini juga berlaku di Indonesia.
Berdasarkan rilis data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, terdapat 5 peran penting sektor pertanian, antara lain:
- Mendukung Pertumbuhan Ekonomi. Tercatat, sektor pertanian secara konsisten menjadi sektor terbesar kedua setelah industri pengolahan bagi PDB Nasional. Pada tahun 2021, kontribusi sektor pertanian untuk PDB adalah sebesar 13.28%.
- Penyedia Makanan. Sektor pertanian juga berperan penting bagi dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
- Penghasil Devisi Negara. Komoditas pertanian tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun dilirik oleh pasar global. Pada tahun 2020, nilai ekspor sektor pertanian mencapai angka Rp. 452 Triliun, angka ini terus meningkat menjadi Rp. 625 Triliun pada tahun 2021.
- Sumber Pendapatan Utama RPT (Rumah Tangga Petani). Pendapatan rumah tangga petani ditopang lebih dari 70% dari sektor pertanian.
- Penyedia Lapangan Pekerjaan. Sektor pertanian di Indonesia juga menjadi penyedia lapangan pekerjaan terbesar yaitu sekitar 38,7 juta orang. Angka ini mencapai 30% dari total pekerja yang ada di Indonesia.
Selain secara nasional, sektor pertanian juga masih menjadi sektor andalan di berbagai daerah. Hal ini tercermin dari erbagai penelitian yang telah membuktikan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian yang dilakukan Widianingsih dkk (2016) menjelaskan bahwa Provinsi Jawa Barat masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan di masa mendatang. Menurut Zuhdi (2021), sektor pertanian di Kabupaten Kampar menunjukkan pertumbuhan yang pesat dan menjadi sektor basis penopang ekonomi daerah.
Upaya menjadikan Sektor Pertanian sebagai salah satu ektor yang berdampak positif terhadap perokonomi harus senantiasa dipertahankan dan ditingkatkan. Setidaknya ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kita bersama dalam membangun sektor pertanian, antara lain:
- Pemanfataan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam secara Berkelanjutan. Fenomena pemanfaatan lahan semaunya oleh masyarakat sudah menjamur hampir di semua daerah. Hal ini bukan hanya berdampak negatif bagi lahan itu sendiri, namun juga akan mengakibatkan dampak lain seperti bencana alam (banjir dan tanah longsor). Maka dari harus ada kesadaran Bersama antar semua stakeholders untuk kita sama-sama menjaga alam kita. Hal ini menjadi penting dalam rangka menjaga kualitas dan kuantitas lahan yang kita miliki.
- Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Sumber Daya Manusia. Kualitas SDM, yaitu petani itu sendiri juga harus ditingkatkan secara berkelanjutan. Misalnya dengan memberikan pelatihan yang relevan dan juga memberikan edukasi bahwa selain untuk pemenuhan kebutuhan lokal, komoditas pertanian harus berorientasi ekspor.
- Penggunaan Teknologi. Hal ini yang selalu menjadi kendala pada sektor pertanian. Maka sangat urgen untuk petani kita mengadopsi penggunaan teknologi tepat guna. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses usahatani.
- Saat ini ada beberapa daerah pertanian yang mengalami kesulitan dalam meningkatkan produktivitas dikarenakan faktor kecukupan air baku. Hal ini membutuhkan rekayasa bendungan atau waduk alami untuk menjaga kecukupan air bagi petani. Termasuk juga infrastruktur jalan. Seringkali daerah pertanian kita memiliki akses jalan yang sangat memprihatinkan. Sehingga ini akan berdampak pada tingginya biaya transportasi angkutan hasil tani.
Referensi:
Timmer, C. P. (2002). Agriculture and economic development. Handbook of agricultural economics, 2, 1487-1546.
Widianingsih, W., Suryantini, A., & Irham, I. (2015). Kontribusi Sektor Pertanian Pada Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Jawa Barat. Agro Ekonomi, 26(2), 206-218.
Gylfason, T. (2000). Resources, agriculture and economic growth in economies in transition. Agriculture and Economic Growth in Economies in Transition (July 2000).
Zuhdi, F. (2021). Peranan Sektor Pertanian terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kampar. Jurnal Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis, 5(1), 274-285.
www.pertanian.go.id