Tingkat Inflasi di Lombok Tengah Tahun 2017-2019
Oleh: Muhamad Satriawan Alfarizi (Mahasiswa FEB Unram)
Pembangunan Ekonomi merupakan suatu proses peningkatan kualitas ekonomi dalam suatu negara untuk jangka waktu yang panjang dengan menghitung pendapatan perkapita dan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk. Dalam pelaksanaannya, pembangunan ekonomi selalunya akan menghadapi permasalahan-permasalahan ekonomi secara nasional, pertumbuhan ekonomi,pengangguran, inflasi, serta masalah masalah lainnya. Nantinya, pembangunan ekonomi ini akan dapat menjadi indikator apakah kebijakan pemerintah di sektor ekonomi sudah tepat atau belum.
Di Indonesia sendiri, terdapat era keemasan pembangunan ekonomi dimana orang-orang memiliki kemampuan beli yang sangat tinggi adalah era Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto. Di masa pemerintahan beliau inflasi sangat tinggi, namun keadaan tersebut telah tertutup dan ditekan oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sehingga masyarakat tetap mampu membeli setinggi inflasi yang terjadi. Namun sayang, pada akhirnya pemerintahan beliau harus terhenti akibat terjadi inflasi yang tidak dapat ditangani oleh kabinetnya. Inflasi ini lebih besar dari pertumbuhan ekonomi hingga masyarakat merasa era beliau harus selesai pada saat itu juga.
Inflasi sendiri adalah keadaan dimana tingkat harga secara umum naik secara terus-menerus. Artinya, tingkat harga dari beberapa barang barang pokok naik sehingga menyebabkan kenaikan barang-barang lain. Inflasi ini sebenernya umum terjadi di setiap negara di dunia. Namun negara dengan prospek ekonomi yang bagus adalah negara yang mampu menjaga inflasinya tetap rendah dan tidak melebihi tingkat pertumbuhan ekonominya agar masyarakat tetap mampu membeli kebutuhannya. Inflasi yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi juga secara tidak langsung dapat mengurangi dampak dari masalah masalah makro lain seperti pengangguran dan pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
Kenaikan beberapa barang barang pokok ini sebenarnya belum tentu menyebabkan inflasi terjadi. Akan tetapi, biasanya menyebabkan kenaikan barang- barang lain yang membutuhkan input dari barang pokok tersebut sehingga memperburuk kondisi kondisi lain contohnya pada pengangguran. Pengangguran mengartikan bahwa ia tidak memiliki pekerjaan yang dapat menghasilkan upah/gaji sehingga ketika terjadi inflasi ia akan semakin susah untuk hidup karena tidak mampu membeli barang- barang kebutuhan pokok. Ketika ini terjadi maka akan menambah beban bagi penanggung pengangguran entah itu keluarganya ataupun bahkan negara. Pada akhirnya,ini akan berefek negatif bagi negara secara luas juga.
Inflasi terbagi menjadi 3 klasifikasi, yakni rendah, menengah dan hyperinflasi. Inflasi rendah ini adalah kondisi dimana inflasi terjadi dibawah 10%. Pada tingkat ini dikatakan rendah karena inflasi ini umumnya dapat tertutupi oleh pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Sedangkan pada tingkat sedang dan tinggi terjadi berkisar 10%- 30% (sedang) dan 30%-100% yang mana kenaikan ini terjadi dalam waktu yang singkat. Pada tingkat ini umumnya pertumbuhan ekonomi tidak dapat menampung inflasi sehingga menimbulkan dampak buruk di wilayah tersebut seperti meningkatnya tingkat pengangguran,semakin rendahnya harga uang yang berlaku, bahkan hingga tingkat kemiskinan yang meningkat. Pada tingkat hyperinflasi yang mana inflasi terjadi diatas 100%, nilai uang sudah hampir dah bahkan tidak berlaku lagi. Umumnya jika terjadi hyperinflasi orang lebih memilih untuk melakukan barter dibandingkan membeli menggunakan uang.Tidak hanya di tingkat nasional, kita juga dapat menghitung tingkat inflasi di level daerah saja. Contohnya di Kab/Kota yang ada di Indonesia yang mana datanya kita dapat lihat di Website BPS sesuai dengan Kab/Kota yang ingin dicari tahu.
Di Lombok Tengah sendiri kita jarang mendengar masalah yang timbul akibat dari inflasi. Ini disebabkan karena terjaganya tingkat inflasi itu sendiri serta cukup tingginya pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan inflasi tersebut. Contoh saja pada tahun 2017 hingga 2019 dimana data dari BPS menunjukkan bahwa inflasi berada di angka sekitar 3% sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5%. Ini mengindikasikan bahwa perkembangan ekonomi di Lombok Tengah cukup baik dan masyarakat masih mampu membeli kebutuhannya meskipun telah terjadi inflasi sebesar 3% tersebut.
Dari Buku Lombok Tengah dalam Angka tahun 2022, Lombok Tengah pada tahun 2017 memiliki inflasi pada angka 3,69%. Ini merupakan tingkat inflasi tertinggi sepanjang rentan waktu 2017-2019. Meskipun begitu telah terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% yang mana mengartikan pertumbuhan ekonomi dapat menutupi inflasi yang terjadi dan tetap mendapat kenaikan pembangunan ekonomi.
Sedangkan pada tahun 2018 inflasi turun sebesar 0,59% sehingga pada tahun tersebut inflasi hanya berada pada angka 3,1% dimana angka ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi yang naik sebesar 0,1%. Ini adalah grafik yang baik bagi suatu daerah karena selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi namun dapat mengurangi inflasi sehingga pembangunan ekonomi dapat meningkat lebih besar.
Pada 2019 Lombok tengah mendapat kenaikan inflasi sebesar 0,09% yang mana peningkatan ini bukan merupakan peningkatan besar sehingga tidak menjadi masalah besar bagi Kabupaten Lombok Tengah. Meskipun kenaikan inflasi ini tidak diikuti oleh kenaikan persentase pertumbuhan ekonomi namun pertumbuhan ekonomi tetap dapat menutupi nilai inflasi tersebut.
Angka- angka tersebut mengindikasikan bahwa Lombok Tengah telah menghadapi inflasi dengan baik sehingga di Kabupaten Lombok Tengah kita masih bisa memenuhi kebutuhan pokoknya dan masih bisa menyimpan untuk membeli barang/jasa lain. Ini karena tingkat inflasi yang terjaga di angka yang rendah dan tidak mengganggu pembangunan ekonomi di Lombok Tengah.
Daftar Pustaka
Jenis-Jenis Inflasi yang Bisa Terjadi di Suatu Negara | Ekonomi Kelas 11
Buku Lombok Tengah Dalam Angka Tahun 2022
https://sumber.belajar.kemdikbud.go.id/repos/FileUpload/Orde%20Baru-BB/Topik-2.html