Oleh: Muhamad Bai’ul Hak, SE., M.AppEc
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram
Overview Konsep Industri
Salah satu pemikir ekonomi, yaitu Walt Whitman Rostow; seorang ekonom sekaligus politikus asal Amerika. Pada tahun 1990, Rostow pernah menulis sebuah buku femonal berjudul The Stages of Economic Growth: a non-communist manifesto. Terdapat 5 (lima) tahapan pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu: (1). Masyarakat tradisional (the traditional society); (2). Prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off); (3). Tinggal landas (the take-off); (4). Menuju kekedewasaan (the drive to maturity); dan (5). Masa konsumsi tinggi (the age of high mass-consumption).
Salah satu isi dari buku ini adalah tentang teori lepas landas sebuah negara, yang ditandai dengan tumbuhnya berbagai sektor industri negara tersebut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ofori (1988) dan juga Libanio & Moro (2006), menjelaskan bahwa industri manufaktur atau pengolahan berpengaruh positif terhadap perekonomian suatu negara.
Data Kontribusi Sektor Industri Terhadap Perekonomian
Berdasarkan data dari BPS yang ditulis oleh Viva Budi Kusnandar (dikutip dari katadata.co.id), menjelaskan bahwa sektor industri masih menjadi andalan utama perekonomian Indonesia. Namun, berdasarkan gambar 1 terlihat kontribusi sektor industri mengalami tren menurun 1 dekade terakhir.

Pada kuartal pertama tahun 2013, kontribusi sektor industri terhadap perekonomian nasional mencapai 21,57%. Namun mengalami penurunan yang cukup drastic pada kuartal pertama tahun 2023 yaitu menjadi 17,84%. Artinya kontribusi sektor industri menyusut 3,73 poin persentase dalam 10 tahun terakhir. Hal serupa terjadi pada industri pengolahan nonmigas. Dalam 10 tahun terakhir tren kontribusi industri pengolahan nonmigas juga turun 2,07 poin persentase menjadi 16,01% pada kuartal II 2022 dibanding posisi kuartal I 2013.
Kondisi ini mengindikasikan adanya gejala deindustrialisasi, yakni penurunan kontribusi sektor industri bagi perekonomian nasional. Maka dari itu, Indonesia sebagai negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), harus kembali mengoptimalkan potensi sumber daya alam untuk dilakukan industrialisasi. Sudah lama juga kita ekspor kekayaan alam tersebut secara langsung tanpa adanya pengolahan, misalkan hasil tambang, hasil pertanian, perikanan dan sejenisnya. Maka dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi negara, upaya lepas landas dari negara agraris menjadi negara industri harus menjadi prioritas pembangunan nasional.
Tiga Strategi Mendasar Pengembangan Industri
Tidak ada perdebatan soal industri menjadi jawaban atas SDA yang melimpah. Secara bertahap, jika negara agraris ingin memberikan dampak yang besar (higher multiplier effect), maka jawabannya adalah mengolah komoditas atau SDA, termasuk di dalamnya hasil pertanian, perkebunan, peternakan, komoditas dari dari sektor laut, baik yang ditangkap maupun budidaya, dan komoditas lainnya. Artinya, berpindah (shifting) dari status agraris menuju industri menjadi satu keniscayaan jika ingin mempercepat pembangunan ekonomi.
Dalam upaya mengakselerasi terwujudnya pembangunan ekonomi melalui industri, setidaknya ada 3 arah kebijakan yang harus dilakukan, antara lain.
- memenuhi “mayoritas” kebutuhan dalam daerah (Local Needs)
- menciptakan Produk/Komoditi yang banyak kita impor (Import Substitution Industrialization)
- mendorong Produk/Komoditi Berorientasi Ekspor (Export-Oriented Industrialization)
Strategi Pertama, yaitu menciptakan produk barang/jasa yang menjadi kebutuhan masayarakat lokal. Misalkan selama ini masyarakat membutuhkan daging sapi 100 Ton per hari, namun kemampuan kita hanya 50 ton per hari. Maka kebiajakan harus meningkatkan produktivitas peternak sapi sehingga mampu memberikan pasokan (supply) terhadapa kebutuhan lokal.
Strategi Kedua, yaitu Import Substitution Industrialization atau mengurangi ketergantungan produk atau komoditas impor. Tentu tidak akan 100 (serratus) persen lepas dari produk impor, namun produk/komoditas impor yang mampu kita ganti harus segera dieksekusi. Misalkan selama ini kita impor beras, maka potensi lahan pertanian harus dioptimalkan agar mampu meningkatkan produksi. Sehingga kita bisa menuju negara yang mandiri untuk mengurangi impor.
Strategi Ketiga, yaitu Export-Oriented Industrialization atau mencipatakan produk yang berorientasi ekspor. Kebiajakan industri agar menghasilkan produk yang mampu menembus pasar global akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Produk yang berorientasi ekspor juga mendorong Sumber Daya Manusia (SDM) kita untuk terus berinovasi dan beradaptasi mengikuti perkembangan, baik itu perkembangan teknologi informasi maupun perkembangan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Dalam menjalankan ketiga strategi tersebut, diperlukan adopsi dan pemanfaatan teknologi dalam setiap fase dan ekosistem industri. Hal ini termasuk dalam implementasi konsep digitalisasi bagi sektor usaha yang mengusung industri, artinya usaha pengolahan barang mentah menjadi bahan baku. Penelitian yang dilakukan oleh duo Kraus (2021), menjelaskan pentingnya implementasi digitalisasi bisnis bagi pelaku industri baik industri kecil, menengah maupun industri besar. Digitalisasi akan meningkatkan daya saing pelaku industri, baik secara nasional maupun global.
Referensi
Ofori, G. (1988). Construction industry and economic growth in Singapore. Construction Management and Economics, 6(1), 57-70.
Kraus, N., & Kraus, K. (2021). Digitalization of business processes of enterprises of the ecosystem of Industry 4.0: virtual-real aspect of economic growth reserves. WSEAS Transactions on Business and Economics, 18, 569-580.
Kusnandar, V.B (2023). Perekonomian Indonesia Alami Deindustrialisasi?. (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/08/09/perekonomian-indonesia-alami-deindustrialisasi diakses Januari 2023).
Libanio, G., & Moro, S. (2006, December). Manufacturing industry and economic growth in Latin America: A Kaldorian approach. In Second Annual Conference for Development and Change (pp. 2-5).
Rostow, W. W. (1990). The stages of economic growth: A non-communist manifesto. Cambridge university press.